GURU BODONG, GURU GONDRONG: Sebuah Motivasi Meningkatkan Kualitas Diri

 

Foto: Saat Show di acara Jambore GTK Hebat 2024 yang diselenggarakan oleh BGP Provinsi Banten

Saya adalah guru seni musik di SMPN 1 Cibeber. Sekolah ini adalah almamater saya yang berdiri sejak tahun 1962. SMPN 1 Cibeber berada di jantung Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Sebagai sekolah tertua ke dua di Kabupaten Lebak, sekolah ini menjadi saksi bisu sejarah panjang pendidikan di Banten Selatan. Sebagai alumninya, sudah sepantasnya saya memberikan kontribusi nyata bagi almamater tercinta.

Tahun 2013, saya menyelesaikan studi di STSI Bandung (kini ISBI Bandung) dengan konsentrasi keahlian alat petik pada jurusan Karawitan. Kampus ini dikenal sebagai 'pabrik' seniman akademis, sehingga pembelajaran lebih terarah pada pengembangan kemampuan artistik. Maka jelas, saat kuliah saya tidak pernah diajarkan bagaimana cara mengajar dan bagai mana berprofesi sebagai seorang guru.

Banyak teman dan keluarga yang skeptis dengan pilihan saya. 'Karawitan? Musik tradisional? Apa prospek kerjanya?' adalah pertanyaan yang sering saya dengar. Saat itu, saya hanya tersenyum menanggapinya. Belum terlintas dalam benak saya akan menjadi apa kelak. Menjadi guru? Sama sekali tidak terlintas dalam pikiran saya.

Sebuah peristiwa tidak akan pernah terlupakan, saat saya berada pada posisi kesulitan, kekecewaan, kemuduran bahkan kemalangan yaitu pada tahun 2013 awal mula saya meniti karir berprofesi sebagai Guru. Senin, 3 Juni 2013 saya lulus dan menyandang gelar Sarjana Seni (S.Sn.). Setelah wisuda saya masih asyik dengan dunia berkesenian di Bandung, giat mengikuti beberapa komunitas budaya, komunitas seni, bahkan sempat mendapat tawaran untuk ikut bergabung menjadi pemusik pada salah satu acara TV ‘Opera Van Java’ bersama beberapa teman seangkatan. Namun nasib berkata lain. Setelah mendapat tawaran dan menandatangani kontrak kerja, orang tua menghubungi agar saya segera pulang ke kampung halaman, dengan alasan bahwa saya harus bekerja sebagai guru seni musik di SMP Negeri 1 Cibeber. Sempat bertanya dalam hati. “Apakah saya bisa menjadi seorang guru?” tanpa banyak berfikir panjang, segera saya pulang ke kampung halaman. Alasan orang tua mendorong saya untuk menjadi guru didasari oleh kebutuhan guru seni di Kabupaten Lebak sangatlah kurang. Akhirnya saya memberanikan diri menjadi seorang guru tanpa bekal ilmu keguruan.

Sabtu, 13 Juli 2013 saya diajak ayah yang merupakan Guru Bahasa Inggris dan Seni di SMPN 1 Cibeber. “Hari Senin ke SMP ya A! gantikan papah ngajar Seni.” Perasaan berampur aduk dalam hati, antara ingin menolak dan tidak ingin mengecewakan orang tua. Namun saya tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap. Satu-satunya penghasilan hanya lewat bermusik dari panggung ke panggung. Itu pun terbilang jarang. Eksistensi saya dikampung masih belum banyak dikenal kawan-kawan seniman lain. Akhirnya tidak ada pilihan selain mengikuti perintah orang tua. Berbicara kompetensi professional sebagai seorang guru? Jelas sangat jauh dari kata layak untuk dikatakan sebagai guru. Namun karena guru seni dibutuhkan, akhirnya membuat keberadaan saya disambut hangat oleh pihak sekolah.

Di hari pertama mengajar, saya kebingungan harus bagaimana? Materi apa yang harus diajarkan? Harus berpenampilan bagaimana? Sementara rambut gondrong disisir ke samping, badan kurus dibalut baju kameja kotak-kotak, celana bahan licin gombrang hasil pinjam dari ayah dan sepatu kasual bermerek Vespa berwarna hitam yang dipakai. Saya sangat tidak percaya diri berada di dalam kelas. Akhirnya, intuisi anak seni pun muncul secara alamiah. Dalam hati berkata “Saya bisa berimprovisasi agar dapat menguasai kelas”. Saya coba mengingat-ingat gaya guru-guru menyampaikan materi di kelas saat dulu menjadi siswa. Saya mulai menirukan gaya berbicara, gesture tubuh, hingga lelucon-lelucon yang membuat siswa tertawa. Hal itu demi kelas yang harus saya kuasai.

Materi pertama yang diajarkan pupuh KSAD (Kinanti, Sinom, Asmarandana dan Dangdanggula). Materi itu lah yang pertama terpikirkan. Saya tidak mengenal adanya perangkat pembelajaran berupa silabus, RPP, KI, KD, PROTA, PROSEM hingga perangkat lain yang perlu disiapkan. Buku paket pegangan guru pun saya belum punya.

Hari demi hari saya lalui, rasa ingin tahu semakin memuncak, dan kecintaan dalam dunia pendidikan pun semakin menjadi. Saya mulai belajar melalui diskusi kecil bersama guru-guru senior, rajin ikut serta dalam kegiatan MGMP dan banyak bertanya terkait bagaimana menjadi seorang guru dalam forum tersebut.

Disaat saya begitu bersemangat mempelajari berbagai metode pembelajaran dan baru mengenal dunia pendidikan beberapa bulan saja, terdengar 'celetukan' perkataan yang terasa menyakitkan dari seorang komite sekolah. Kalimat itu terlontar dalam forum rapat komite dengan dewan Guru, seolah menyindir secara halus. "Guru belum bersertifikat pendidik adalah guru bodong". Kalimat tersebut terasa seolah menyudutkan, karena saya sadar diri bahwa saya guru seni yang bukan dari pendidikan ilmu keguruan, tidak memiliki Akta IV, apalagi sertifikat pendidik. Bahkan yang lebih terasa kalimat itu diperuntukan kepada saya adalah saat bersalaman dengan komite terlontar kalimat "guru kok gondrong?”. Sialnya saat itu rambut saya memang belum sempat dicukur serta memakai kameja hitam polos dan celana jins saat rapat. Alasannya adalah selesai rapat saya akan pergi manggung. Itulah dua buah frasa yang selalu saya ingat sampai sekarang, "guru bodong dan guru gondrong".  Tentu saja hal itu memotivasi diri saya menjadi pribadi yang lebih baik.

Saya harus sabar, sadar dan mencoba dunia baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Saya awali mulai dengan berpenampilan rapih dalam berpakaian saat mengajar, rambut yang tidak gondrong lagi, dan memperdalam kompetensi pedagogik sebagai guru. Saya mencoba menata hidup dengan keahlian yang dimiliki. Saya mencoba membagi waktu antara manggung, mengajar dan belajar. Saya selalu melibatkan diri dalam MGMP, PGRI dan mengikuti pelatihan-pelatihan kompetensi guru. Dari sana lah kemudian membawa pikiran saya lebih dalam di dunia pendidikan. Perjalanan itu saya lalui selama 2 tahun dari tahun 2013 sampai tahun 2015, hingga akhirnya mendewasakan dan merubah hidup saya.

Dikala masih buram dalam dunia pendidikan, tahun 2015 saya mengikuti Pre-tes PPG dalam jabatan. Alhamdulillah saya lolos Pre-tes PPG, namun belum ada panggilan untuk mengikuti proses kuliah PPG. Rasa sesal pun hadir, akhirnya tahun 2016 saya memutuskan untuk melanjutkan studi S-2 dengan minat utama Penciptaan & Pengkajian Seni di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, hingga lulus dengan predikat cumlaude pada tahun 2018 dan menyandang gelar Magister Seni (M.Sn.).

Tahun 2020 saya baru terpanggil mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan. Alhamdulillah pada tahun tersebut pula saya lulus PPG dan mendapatkan sertifikat profesi guru sebagai Guru Profesional (Gr). Tahun 2021 pemerintah mengeluarkan regulasi baru tentang pengangkatan ASN PPPK. Dengan adanya pengangkatan guru PPPK, saya lolos menjadi ASN PPPK di SMPN 1 Cibeber. Buah dari kesabaran dan perjalanan hidup dari sepenggal frase yang memotivasi saya. “Guru bodong, guru gondrong” membawa perubahan signifikan dalam panggung kehidupan saya.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada tokoh komite yang menyebut saya ‘guru gondrong, guru bodong’. Dulu ketika disebut sebagai ‘guru gondrong, guru bodong', saya merasa tersentil. Namun alih-alih berkecil hati, saya justru termotivasi untuk membuktikan bahwa gelar itu tidak pantas disandang. Kata-kata itu menjadi pelecut semangat saya untuk mengikuti PPG dan melanjutkan studi S-2. Hari ini saya telah berhasil meraih semua itu. Kini saya memiliki sertifikat pendidik, telah menjadi ASN PPPK, dan sebagai Guru Penggerak pada PGP angkatan ke-9 tahun 2024. Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada tokoh komite yang telah memberi saya dorongan begitu berarti. Ucapan Bapak telah menjadi do’a yang mustajab. Terimakasih Pak, semoga Bapak dan keluarga selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan.

Hal terpenting yang bisa diambil pelajaran dari kisah saya adalah tumbuhnya sebuah keyakinan. Sesuatu yang mengecewakan tidak selamanya negatif. Justru bisa menjadi positif. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Jika disikapi dengan stres, maka yang ada akan menyebabkan diri menjadi sakit. Namun jika disikapi dengan tenang dan positif, maka bisa jadi penguat kita untuk berusaha lebih baik.

Dampak dan Implikasi dari pengelolaan masalah tersebut terhadap diri saya dalam menjalankan peran sebagai pendidik adalah berusaha untuk selalu sabar, ikhtiar, dan berdo’a. Sabar, ketika menemukan sesuatu mengecewakan dari proses mendidik murid yang tidak sesuai harapan. Ikhtiar, berusaha melakukan refleksi dan memperbaiki kekurangannya. Do’a, meminta kepada Allah SWT sang pemilik segalanya agar murid saya dijadikan sebagai pribadi yang unggul dan berakhlak mulia. Setelah melewati masa krisis, saya mendapatkan banyak hasil yang membuat saya bersyukur.

Adanya perubahan status dari GTT menjadi ASN PPPK, membantu saya untuk meningkatkan kualitas diri dan hidup saya. Sertifikat Pendidik dan status Guru Penggerak membuat saya lebih percaya diri dan semakin bertanggung jawab dalam dunia pendidikan. Dalam pikiran saya, 'saya harus bisa menuntun siswa sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya' melalui bidang keahlian yang dimiliki. Saya akan merasa malu jika dari 500 siswa di SMPN 1 Cibeber tidak ada satu pun siswa yang memiliki prestasi dalam bidang seni musik'. Maka atas dasar pikiran tersebut, saya telah berhasil mengantongi beberapa perlombaan bidang seni hasil bimbingan dan pelatihan yang saya lakukan. Pada tahun 2024 ini siswa yang saya latih telah berhasil meraih juara 1 pada Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Banten, cabang lomba menyanyi lagu tradisional Sunda, dan akan dikirimkan ke tingkat Nasional pada awal tahun 2025 mendatang.

Dengan memiliki kesadaran diri, kita akan lebih mudah mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, memahami tindakan yang dapat diambil untuk mengatasinya, dan mengoptimalkan potensi diri dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, pengembangan kompetensi sosial dan emosional harus dianggap sebagai bagian integral dari proses pendidikan, agar guru dapat menghadapi kehidupan dengan percaya diri dan sukses menjadi Guru Hebat, untuk Indonesia kuat.

Post a Comment for "GURU BODONG, GURU GONDRONG: Sebuah Motivasi Meningkatkan Kualitas Diri"